Limbah kulit buah kakao yang dihasilkan setiap panen akan menimbulkan masalah jika tidak ditangani dengan baik, seperti polusi udara dan potensi menjadi sumber penyebaran hama dan penyakit tanaman. Pengolahan limbah kakao menjadi pakan ternak merupakan salah satu alternatif pengelolaan limbah kulit buah kakao yang efektif dan mampu meningkatkan nilai tambah yang cukup signifikan bagi petani kakao.
Komponen terbesar yang dihasilkan dari pengolahan biji kakao adalah kulit buah kakao yang mencapai 73,7%. Limbah kulit buah kakao ini belum dikelola secara optimal padahal kulit buah kakao dapat diolah bermacam produk, seperti kompos, pakan ternak, biogas, tepung, pektin, dan zat pewarna.
Pemanfaatan limbah kulit buah kakao sebagai pakan ternak dapat dimanfaatkan pada pola integrasi kakao ternak. Pola integrasi ini selain mengurangi pencemaran lingkungan, juga membuat usaha tani lebih efisien, karena akan lebih banyak memanfaatkan sumber daya lokal dan memperkecil input. Dengan demikian pola tersebut, diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani kakao.
Proses pengolahan pakan konsentrat dari kulit buah kakao meliputi pencincangan, fermentasi, pengeringan, penggilingan dan pengemasan. Proses pengolahan selengkapnya sebagai berikut:
Pencincangan
Proses ini bertujuan untuk memperkecil ukuran kulit buah kakao, agar lebih mudah difermentasi. Pencincangan dapat dilakukan secara manual dengan pisau atau golok, dan mesin pencincang. Hasil proses ini akan berbentuk serpihan-serpihan berukuran 2–5 cm.
Fermentasi
Proses fermentasi merupakan tahapan terpenting karena melalui proses ini mutu limbah kulit buah kakao dapat ditingkatkan. Proses fermentasi dapat berlangsung secara efektif dengan bantuan mikroba sebagai inokulan. Dari berbagai jenis inokulan yang dicoba, inokulan terbaik adalah Aspergillus niger.
Fermentasi akan berjalan efisien apabila sebelumnya bibit Aspergillus niger diaktifkan dan diperbanyak terlebih dahulu. Bibit A. niger yang dijual di pasaran berbentuk padat atau cair. Satu liter bibit A. niger dapat dijadikan 100 liter larutan aktivasi. Aktivasi dan perbanyakan A. niger memerlukan peralatan seperti bak plastik yang bersih dan aerator, dengan bahan nutrisi yang digunakan adalah gula pasir, urea, dan NPK, masing-masing 1% dari berat air.
Untuk setiap 1 kg kulit buah kakao membutuhkan 1 liter larutan A. niger yang telah aktif. Apabila kulit buah kakao yang akan difermentasi 10 kg, maka aktivasi dan perbanyakan A. niger sebagai berikut: (1) larutkan 100 g gula pasir, 100 g urea dan 100 g NPK ke dalam 10 liter air; (2) tambahkan 100 ml A. niger dan lakukan pengadukan; dan (3) larutan diaerasi selama 24–36 jam dengan alat aerator, setelah itu larutan A. niger dapat dipergunakan untuk fermentasi.
Bila di lokasi tidak tersedia listrik dan aerator, aerasi dapat dilakukan dengan membiarkan larutan tersebut selama 72 jam, baru digunakan. Selama proses aktivasi, larutan harus diletakkan di tempat yang teduh dan ditutup agar tidak terkontaminasi mikroba lain.
Fermentasi terhadap kulit buah kakao dapat dilakukan di dalam kotak, atau di atas anyaman bambu/para-para atau di atas lantai yang dilapisi dengan kayu/bambu, yang penting tempatnya harus teduh beratap agar bahan tidak terkena hujan atau sinar matahari.
Tahapan proses fermentasi
- Kulit buah kakao yang akan difermentasi dihamparkan setebal 5–10 cm pada permukaan wadah/tempat fermentasi, selanjutnya disiram dengan larutan A. niger secara merata. Penyiraman bisa dilakukan dengan tangan, tetapi lebih baik dengan gembor atau sprayer agar lebih merata.
- Di atas tumpukan bahan yang telah tersiram ditaburkan lagi bahan setebal 5 –10 cm, selanjutnya disirami lagi larutan A. niger secara merata. Demikian seterusnya, sehingga bahan habis tertumpuk dan tersiram larutan A. niger.
- Di atas tumpukan kulit buah kakao tersebut harus ditutup dengan goni, kain atau plastik yang bersih secara rapat agar tetap lembap dan terlindung dari mikroba lain, dan dibiarkan hingga 4–5 hari.
Apabila proses fermentasi terlalu cepat (kurang dari 4 hari) dapat menyebabkan proses dekomposisi menjadi kurang sempurna, dan bila terlalu lama akan menyebabkan terjadinya proses mineralisasi yang membuat bahan menjadi kompos. Setelah 4–5 hari tumpukan harus dibongkar dan selanjutnya dikeringkan.
Pengeringan
Proses pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran di bawah sinar matahari atau alat pengering. Pengeringan dengan sinar matahari memerlukan waktu 2–-3 hari bila matahari bersinar cerah. Apabila cuaca mendung dan hujan, pengeringan dapat menggunakan alat dryer yang dilakukan pada suhu ± 60°C yang memerlukan waktu 4–5 jam. Kulit buah kakao olahan yang telah kering ditandai dengan tekstur yang keras dengan warna yang kehitam-hitaman.
Penggilingan
Penggilingan dilakukan agar kulit buah kakao bentuknya lembut seperti tepung sehingga ternak mudah memakan dan mencernanya. Disamping itu, penepungan akan memudahkan penyimpanan, pengangkutan dan pencampuran pada saat diberikan pada ternak. Penggilingan secara efisien dilakukan menggunakan alat mesin penggiling, sehingga ukuran serbuk bisa diatur.
Untuk pakan ternak ruminansia (sapi, kerbau, dan kambing) ukurannya bisa agak kasar, sedangkan untuk babi atau unggas sebaiknya bentuknya lebih lembut. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan saringan dengan ukuran lubang yang berbeda. Untuk alat penggiling berkapasitas 100 kg/jam, diperlukan mesin penggerak berkekuatan 8 HP, sehingga pada proses penggilingan dengan bahan yang banyak akan lebih efisien.
Pengemasan
Tepung konsentrat kulit buah kakao dapat langsung diberikan pada ternak, dan dapat disimpan selama 6–10 bulan. Penyimpananya perlu dilakukan pengemasan dengan wadah plastik atau goni, dan diikat atau dijahit untuk mencegah masuknya serangga atau mikroorganisme perusak, serta disimpan ditempat yang kering dan teduh. Dengan demikian, tepung konsentrat tidak cepat rusak dan mutunya dapat dipertahankan dengan baik.
Optimalisasi pemanfaataan kulit buah kakao dapat berkontribusi terhadap ketersediaan pakan ternak yang murah dan bermutu tinggi. Diharapkan hal tersebut akan mendorong berkembangnya usaha agribisnis ternak kambing secara integratif terutama di daerah sentra produksi kakao, sehingga usahatani integrasi kakao ternak kambing dapat memberikan nilai tambah pendapatan yang cukup signifikan bagi petani kakao.
Sumber:
Towaha, J. (2017). Potensi limbah kulit buah kakao sebagai pakan ternak untuk mendukung usahatani integrasi kakao ternak kambing. SIRINOV, 5(1): 45–57. https://repository.pertanian.go.id/server/api/core/bitstreams/125f38f3-3a03-479a-ad60-fde4c13ab8c2/content